Melihat ekspresi Leena saat melihat benda yang dibawa oleh anaknya, ibu anak tersebut segera bertanya,"Apakah kamu yang memiliki benda ini?"

Leena mengganggukkan kepalanya, "Saya menjatuhkannya di dekat area ledakan saat melihat ke lokasi tersebut. Kami mencari benda ini sejak tadi."

Ibu si anak yang mengetahui bahwa anaknya menemukan benda tersebut di reruntuhan dekat ledakan segera membujuk anaknya untuk mengembalikan.

Sejak awal ibu ini sudah merasa curiga benda ini bukanlah benda biasa, pasti termasuk sebuah artefak yang berharga. Sebagai seseorang yang hidup bersama para Kultivator, ibu si anak tidak merasa asing dengan keberadaan artefak.

Dia merasa khawatir jika nantinya artefak ini dapat meninggalkan masalah, terutama saat melihat pakaian yang digunakan Leena, seragam dari sekte Api Langit yang di kenalnya.

Namun sang anak yang mendengar kata-kata ibunya langsung memeluk pagoda kecil itu erat-erat. "Ini punyaku! Aku yang menemukannya!" serunya polos.

Leena tersenyum, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong cincin penyimpanannya. Sebuah roti panggang berisi daging spiritual, beraroma harum, masih hangat. Ia juga mengeluarkan sekotak kue manis dari paviliun Api Emas .

“Hm... kalau kakak tukar ini dengan benda itu, mau nggak?” tanya Leena sambil tersenyum menggoda.

Mata si anak langsung berbinar, dan ia spontan menyerahkan pagoda kecil itu tanpa ragu. “MAU!”

Leena tertawa kecil dan memberikan makanan itu. Sang ibu juga mengangguk penuh terima kasih.

Setelah menerima artefak itu, Leena memeriksa permukaannya. Memastikan kondisinya masih bagus. . Ini... tak salah lagi, Pagoda Qingling.

Tanpa buang waktu, Leena segera berdiri dan berlari dengan cepat, mencari keberadaan Lynx.

Ia melihat sosoknya berdiri tak jauh dari tengah area pencarian, masih sibuk mengarahkan beberapa anak buah Kael.

“Lynx!” panggil Leena sambil mengangkat pagoda kecil itu. Wajahnya terlihat gembira dengan mata berbinar penuh harap.

Lynx menoleh, alisnya langsung mengerut ketika melihat artefak itu di tangan Leena. Ia melangkah cepat menghampiri.

Leena menyerahkan pagoda itu dengan hati-hati. “Aku menemukannya. Atau lebih tepatnya... seorang anak kecil yang menemukannya. Dia hampir saja menganggap ini mainan.”

"Baguslah. Akhirnya kita menemukanmya. Beritahu yang lainnya!" Kata Lynx sambil memeriksa dan mempelajari formasi yang terpasang untuk mengetahui cara mengaktifkannya

Tidak lama, Leena kembali setelah memberi tahu salah satu anak buah mereka agar menginformasikan kepada yang lainnya.

"Bagaimana Lynx?" Tanya Leena dengan nada agak cemas.

Lynx tersenyum dan menyerahkan artefak kepada Leena "Jagalah dengan baik. Aku akan masuk dan memeriksa. Semoga Kael kita temukan."

Lynx segera mengalirkan Qi ke arah artefak dan membuat gerakan formasi dengan jarinya. Tidak lama, tubuh Lynx menghilang dari hadapan Leena.

Begitu tubuh Lynx menghilang, dunia di sekelilingnya seakan dilahap cahaya kehijauan yang lembut. Saat ia membuka mata, aroma giok tua yang samar memenuhi hidungnya, berpadu dengan hawa hangat dari pusaran Qi yang berputar pelan di udara. Ia berdiri di dalam ruang bundar, dindingnya dari batu kehijauan mengilap, tertutup ukiran pola awan mengalir yang tampak berdenyut perlahan—seolah hidup.

Lynx melangkah hati-hati. Napasnya tertahan, matanya tajam menyisir setiap sudut ruangan. Ia berharap seseorang ada di sini. Seseorang yang ingin ia temui, dan selamatkan.

Pandangan matanya akhirnya tertuju ke bagian tengah ruangan. Di sana, terbaring seorang lelaki tak sadarkan diri di atas ranjang batu giok.

"Kael..." gumamnya lirih.

Ia bergegas menghampiri, lututnya jatuh berlutut di sisi ranjang. Tubuh Kael telanjang dari pinggang ke atas. Dada dan perutnya tampak lemah, dan di sisi kiri dadanya terdapat luka hitam hangus, bekas tembakan laser yang menembus tubuhnya. Lynx menajamkan mata untuk memeriksa kondisiny. Dia mengamati dengan saksama.

“Untunglah tidak kena jantung…” bisiknya, "Memang pantas menjadi seorang prajurit. Bahkan dengan luka separah ini dia masih berusaha bertahan"

Lynx memperhatikan napas Kael terasa halus tapi stabil. Qi di tubuh Kael mengalir lambat—lemah, namun belum padam. Seolah tubuhnya sedang bertahan dengan sisa kekuatan terakhir.

“Aku senang kau masih hidup,” ucap Lynx lirih. Ia memandang sekeliling. Aura spiritual di tempat ini begitu murni, kuat, dan terpusat. “Artefak ini… energi spiritualnya mempertahankan hidupmu. Kau sungguh beruntung Tuan Zhen memberimu ini.”

Ia meletakkan telapak tangannya di atas dada Kael, dan mulai menyalurkan energi saktinya yang dapat meregenerasi sel-sel tubuh seseorang.

Lynx bersyukur memiliki kekuatan tersebut, sehingga dia bisa menolong orang-orang yang penting baginya. Selama orang tersebut masih bernapas, Lynx yakin mampu memulihkan kondisinya.

Pelan-pelan, energi itu meresap masuk, memperkuat sisa-sisa kehidupan dalam tubuh Kael.

Tanpa terasa, Lynx telah menyalurkan kekuatannya selama beberapa jam. Tubuh Kael terlihat mulai normal, napasnya teratur.

Luka di dadanya sudah mulai pulih dan menutup seolah tidak pernah terluka, namun bercak tipis kehitaman di dadanya, tidak sepenuhnya hilang. Lynx dapat merasakan aliran energi di tubuh Kael mulai mengalir dengan lancar.

Lynx menarik napas lega, lalu menengok ke sekeliling ruangan. Ia mengamati detailnya, artefak tingkat tinggi ini benar-benar luar biasa.

Di langit-langit, kristal spiritual memancarkan cahaya lembut, menerangi seluruh ruangan dengan kehangatan tenang. Qi di udara begitu kental, seolah-olah ia berenang dalam samudra energi murni.

“Tempat ini sesuai dengan namanya…” batinnya. “Pantas Tuan Zhen memberikannya kepada Kael. Tempat yang cocok untuk latihan meditasi dan kultivasi batin, sekaligus tempat perlindungan.”

Matanya menyapu ke arah tiga pilar yang berdiri membentuk segitiga di tengah ruangan. Masing-masing diukir dengan simbol Jalan Langit, Bumi, dan Manusia. Pilar-pilar itu bersinar secara bergantian, mengalirkan Qi ke seluruh ruangan melalui formasi tak kasat mata.

Setelah memastikan kondisi Kael membaik, Lynx memutuskan untuk membawanya keluar dari pagoda agar bisa segera mengejar Lala. Karena semakin lama mereka berangkat, semakin bahaya kondisi Lala.

Lynx segera mengangkat Kael yang masih belum sadarkan diri dan membawanya keluar dari pagoda.

***

"Leena, benarkah pagoda sudah ditemukan?" tanya Arkha ketika langkahnya bertemu dengan Leena di pelataran.

Mereka semua telah mendengar kabar bahwa artefak pagoda berhasil ditemukan. Maka tanpa menunda waktu, mereka segera berkumpul, harapan tumbuh dalam dada mereka bahwa Kael mungkin masih hidup, bersembunyi di dalam artefak itu.

Leena mengeluarkan sebuah benda mungil dari dalam lengan jubahnya, memperlihatkannya sekilas, sebuah miniatur pagoda berwarna giok tua, lalu dengan tenang menyimpannya kembali di balik pakaian.

"Sudah waktunya kita kembali," ucap Leena seraya berbalik. "Lynx telah masuk ke dalam artefak. Kini yang bisa kita lakukan hanya menunggu… dan berdoa agar ia berhasil menemukan Kael serta membawanya kembali."

Beberapa jam kemudian, langit telah berubah warna entah sejak kapan. Kegelisahan perlahan menyelubungi hati mereka. Lynx sudah menghilang sejak sore tadi dan belum juga menampakkan diri. Wajah-wajah mereka mulai menunjukkan tanda-tanda cemas yang tak bisa disembunyikan.

Leena berdiri membisu, tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Meskipun ia mempercayai kekuatan Lynx, tak ada yang tahu apakah di dalam artefak itu ada bahaya yang tak bisa diukur dengan akal biasa.

"Leena, tidak bisakah kita menyusul Lynx masuk ke dalam?" tanya Jelita, suaranya gemetar menahan khawatir.

Leena menggeleng perlahan, sorot matanya kosong menatap tanah. "Aku ingin… tapi aku bahkan tidak tahu bagaimana cara masuk. Hanya Lynx yang mengetahui cara untuk masuk. Kita hanya bisa menunggu di sini."

Tiba-tiba, hawa di ruangan berubah. Riak energi spiritual bergemuruh pelan, seperti gelombang yang bergerak di permukaan air tenang. Leena segera menoleh, matanya tertuju pada pagoda kecil yang diletakkan di atas meja kayu giok.

Cahaya menyemburat sejenak dari pagoda, dan dari pusaran samar itu, dua sosok muncul perlahan.

"Kael! Lynx!"

Seruan itu terdengar serempak. Wajah mereka sontak berseri. Lynx muncul sambil menopang tubuh Kael yang masih tak sadarkan diri.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Leena cepat, menghampiri dengan langkah terburu.

Lynx menatap Kael sejenak, lalu menjawab dengan tenang, "Dia dalam keadaan stabil. Kesadarannya tinggal menunggu waktu. Tubuhnya sudah pulih. Biarkan dia beristirahat, luka sebelumnya terlalu dalam."

Ia kemudian meletakkan Kael dengan hati-hati di atas tempat tidur rendah. Jelita segera mendekat dan mulai membersihkan tubuh Kael dengan kain hangat, gerakannya penuh perhatian.

Lynx berdiri, menoleh pada Leena dengan tatapan tajam. "Leena. Kita harus pergi sekarang. Semakin lama kita menunda, Lala semakin dalam bahaya."

Mendengar rencana Lynx, Arkha mendekat dan memberi saran, "Kepala Suku, apakah anda tidak ingin menunggu Kael sadar terlebih dahulu?"

"Betul Lynx, Kael mungkin tahu informasi berharga tentang Lala." Jelita menambahkan.

"Arkha, Jelita, Narendra. Kita sudah menunda waktu sangat lama. Aku tidak ingin kehilangan jejak. Selain itu dengan kertas formasi yang aku berikan, kalian bisa memanggilku jika Kael memiliki berita berharga. Aku bisa kembali kapanpun." Jawab Lynx sambil menarik tangan Leena dan membuat portal teleportasi untuk ke tempat yang lebih luas, membuat portal dimensi.

